Rabu 3 April 2019 Generasi Saintis Islam (GSI ) Fakultas
MIPA UNIVERSITAS BENGKULU mengadakan peringatan Hari Isra Mi’raj nabi Muhammad
SAW dengan tema Meningkatkan Ketakwaan secara Hakiki dari Sebuah Perjalanan
Yang Agung. Bersama pemateri yang luar biasa yaitu Ust. Ulil Amri, M.Pd.I. Kegiatan
diisi dengan taujih bersama oleh . Ulil Amri,M.Pd.I dilanjutkan dengan nonton
bareng kisah perjalanan nabi. Peringatan ini dilaksanakan di musholla dekanat Fakultas
mipa unib lantai satu ba’da shalat Dzuhur
berjama’ah. Nah, disini UKM GSI bekerja sma dengan HIMA selingkup Fakultas MIPA
untuk ikut serta mensukseskan acara tersebut tak terkecuali HIMASTA. Beberapa anggota HIMASTA turut hadir dan ikut memeriahkan acara Isra Mi’raj. Sekaligus
menunjukkan eksistensi HIMASTA dalam kegiatan-kegiatan yang di lakukan
selingkup Fakultas MIPA.
Berikut
review taujih bersama yang di sampaikan oleh Ust. Ulil Amri
Meningkatkan Ketaqwaan secara Hakiki dari Sebuah
Perjalanan Yang Agung
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia di
muka bumi, ia juga merupakan kekasih Allah SWT begitu tinggi nya kedudukan Rasulullah
namun tak ada sedikit pun rasa sombong dan rasa hebat yang ada di hatinya. Itulah
yang di cintai Allah SWT , manusia yang terjaga akhlaknya. Pernah suatu cerita..
Di sudut pasar Madinah
Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada
orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati
Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila
kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".
Setiap pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun
Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun
pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah
SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.
Setelah kewafatan
Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah
kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan
ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak
ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja".
"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu
pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi
buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a.
pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu.
Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai
menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?".
Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau
bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila
ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu
dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku
dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar
r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada
pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah
salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.
Ia adalah Muhammad Rasulullah
SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan
kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya,
memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan
membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, pengemis Yahudi buta tersebut
akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.
Nah, dari cerita di atas kita dapat melihat betapa
mulianya hati seorang Rasulullah. Andaikan kita berada di posisi tersebut
apakah kita bisa melakukan apa yang di lakukan oleh Rasulullah? Tentunya tidaklah
mudah bagi kita. Tapi jangan lah berkecil hati meskipun akhlak kita tidak mampu
menyamai Rasulullah, kita bisa terus berusaha untuk menyempurnakan akhlak kita.
Namun Rasulullah yang sangat mulia pernah di usir dari
Mekkah sehingga ia berniat untuk pergi ke kampung halaman ibundanya yaitu Thaif.
Bukannya disambut dengan senang hati Rasulullah malah diserang dan dikejar-kejar
oleh masyarakat Thaif. Hingga berdarahlah pelipis Rasulullah, saat tak ada lagi
tempat kembali bagi Rasulullah ia mengendap-endap pergi ke Ka’bah pada malam
hari disaat penduduk sudah terlelap. Rasulullah melaksanakan shalat yang panjang
di depan Ka’bah dan mengadukan semuanya kepada Allah. Saat itu istrinya, Khadijah
dan pamannya Abu Thalib sudah meninggal dunia, sehingga tak ada lagi tempat
pulang bagi Rasulullah. Karena terlalu lama sujud dengan keadaan tubuh yang lemah
tanpa sadar Rasulullah tertidur. Lalu turunlah malaikat Jibril dan membangunkannya,
dalam keadaan hati Rasulullah yang sangat sedih Jibril menyampaikan kabar
gembira agar ia melakukan perjalanan yang sekarang kita kenal sebagai Isra
Mi’raj. Dari perjalanan tersebut Rasulullah pulang membawa oleh-oleh yaitu
shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Jadi, hikmah yang bisa kita ambil dari Isra Mi’raj
dalam meningkatkan ketaqwaan adalah dengan memperbaiki shalat kita. Shalat lah
seolah-olah kamu sedang melihat Allah SWT namun jika belum mampu shalatlah
seolah-olah kamu sedang diperhatikan oleh Allah SWT.
Semoga
kita bisa memiliki kualitas shalat dan akhlak seperti Rasulullah ^_^
Aamiin..
