Selasa, 09 April 2019

Isra Mi'raj



Rabu 3 April 2019 Generasi Saintis Islam (GSI ) Fakultas MIPA UNIVERSITAS BENGKULU mengadakan peringatan Hari Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW dengan tema Meningkatkan Ketakwaan secara Hakiki dari Sebuah Perjalanan Yang Agung. Bersama pemateri yang luar biasa yaitu Ust. Ulil Amri, M.Pd.I. Kegiatan diisi dengan taujih bersama oleh . Ulil Amri,M.Pd.I dilanjutkan dengan nonton bareng kisah perjalanan nabi. Peringatan ini dilaksanakan di musholla dekanat Fakultas mipa unib lantai satu  ba’da shalat Dzuhur berjama’ah. Nah, disini UKM GSI bekerja sma dengan HIMA selingkup Fakultas MIPA untuk ikut serta mensukseskan acara tersebut tak terkecuali HIMASTA.  Beberapa anggota HIMASTA turut hadir  dan ikut memeriahkan acara Isra Mi’raj. Sekaligus menunjukkan eksistensi HIMASTA dalam kegiatan-kegiatan yang di lakukan selingkup Fakultas MIPA.
Berikut review taujih bersama yang di sampaikan oleh Ust. Ulil Amri

Meningkatkan Ketaqwaan secara Hakiki dari Sebuah Perjalanan Yang Agung

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia di muka bumi, ia juga merupakan kekasih Allah SWT begitu tinggi nya kedudukan Rasulullah namun tak ada sedikit pun rasa sombong dan rasa hebat yang ada di hatinya. Itulah yang di cintai Allah SWT , manusia yang terjaga akhlaknya. Pernah suatu cerita..

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari  demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW  melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.

Setelah kewafatan  Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah  kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja".

"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.

Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.

Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.

Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.


Nah, dari cerita di atas kita dapat melihat betapa mulianya hati seorang Rasulullah. Andaikan kita berada di posisi tersebut apakah kita bisa melakukan apa yang di lakukan oleh Rasulullah? Tentunya tidaklah mudah bagi kita. Tapi jangan lah berkecil hati meskipun akhlak kita tidak mampu menyamai Rasulullah, kita bisa terus berusaha untuk menyempurnakan akhlak kita.
Namun Rasulullah yang sangat mulia pernah di usir dari Mekkah sehingga ia berniat untuk pergi ke kampung halaman ibundanya yaitu Thaif. Bukannya disambut dengan senang hati Rasulullah malah diserang dan dikejar-kejar oleh masyarakat Thaif. Hingga berdarahlah pelipis Rasulullah, saat tak ada lagi tempat kembali bagi Rasulullah ia mengendap-endap pergi ke Ka’bah pada malam hari disaat penduduk sudah terlelap. Rasulullah melaksanakan shalat yang panjang di depan Ka’bah dan mengadukan semuanya kepada Allah. Saat itu istrinya, Khadijah dan pamannya Abu Thalib sudah meninggal dunia, sehingga tak ada lagi tempat pulang bagi Rasulullah. Karena terlalu lama sujud dengan keadaan tubuh yang lemah tanpa sadar Rasulullah tertidur. Lalu turunlah malaikat Jibril dan membangunkannya, dalam keadaan hati Rasulullah yang sangat sedih Jibril menyampaikan kabar gembira agar ia melakukan perjalanan yang sekarang kita kenal sebagai Isra Mi’raj. Dari perjalanan tersebut Rasulullah pulang membawa oleh-oleh yaitu shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Jadi, hikmah yang bisa kita ambil dari Isra Mi’raj dalam meningkatkan ketaqwaan adalah dengan memperbaiki shalat kita. Shalat lah seolah-olah kamu sedang melihat Allah SWT namun jika belum mampu shalatlah seolah-olah kamu sedang diperhatikan oleh Allah SWT.
Semoga kita bisa memiliki kualitas shalat dan akhlak seperti Rasulullah ^_^
Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar